*"Mimpiku adalah Mimpi Orang Tuaku”*
Ditulis Oleh : Sanusiasaman
Kesederhanaan dalam kehidupan, lahirlah sebuah mimpi yang tidak hanya milik seorang anak, tetapi juga menjadi titipan harapan dari orang tuanya.
Mimpi itu hidup dalam diri Haikal Mubaraq, siswa kelas XII MAN 3 Aceh Timur, yang pada tahun 2026 dari sebahagian teman-temannya yag lain ia berhasil menembus Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan diterima di Universitas Sumatera Utara, Fakultas Teknik Informatika.
Haikal lahir pada Oktober 2006. Hidupnya tidak selalu berjalan mudah. Sejak usia 14 tahun, ia telah menyandang status yatim, kehilangan sosok ayah yang seharusnya menjadi tempat ia bersandar. Sejak saat itu, hidup mengajarkannya arti kuat, bahkan sebelum ia benar-benar siap untuk menjadi kuat.
Ia tinggal bersama neneknya, sosok renta yang menjadi pelipur lara sekaligus penguat langkah. Sementara ibunya harus mengadu nasib sebagai pekerja migran di negeri jiran, meninggalkan rindu yang tak pernah benar-benar usai.
Dalam kesunyian itu, Haikal belajar memahami arti perjuangan bahwa hidup tak selalu tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita bertahan dengan apa yang ada.
Di sela-sela kesibukannya sebagai pelajar, Hailal tak segan menyambi bekerja. Bukan untuk kemewahan, melainkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk dirinya, dan untuk nenek yang ia cintai.
Keringatnya adalah saksi bahwa mimpi besar seringkali lahir dari perjuangan kecil yang tak terlihat.
Meski jarak memisahkan, kasih sayang ibunya tak pernah putus. Lewat pesan-pesan sederhana dan kiriman rezeki yang tak seberapa, sang ibu, bunda dan bibiknya terus menanamkan harapan agar Haikal tetap teguh menuntut ilmu, meraih masa depan yang lebih baik.
Bahkan di momen menjelang hari raya, kiriman itu bukan sekadar uang, tetapi bentuk cinta yang menjelma menjadi pelukan dari kejauhan.
Namun perjalanan itu tak selalu mulus. Saat duduk di kelas X, Haikal pernah berada di titik terendah hampir menyerah dan berhenti sekolah karena keterbatasan biaya.
Dunia seolah terasa terlalu berat untuk dipikul seorang anak seusianya. Tetapi di saat itulah cahaya datang dari arah yang tak terduga. Para guru di madrasahnya mengulurkan tangan, menyalakan kembali semangat yang hampir padam.
Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi penjaga mimpi bagi anak-anak seperti Haikal.
Sejak saat itu, Haikal bangkit. Ia belajar lebih giat, menggenggam harapan dengan lebih erat. Bahkan ketika ia tak pernah membayangkan bisa menembus salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, ia memberanikan diri untuk mencoba. Baginya, mencoba adalah bentuk keberanian terakhir sebelum menyerah.
Dan takdir pun menjawab keberaniannya.
Haikal dinyatakan lulus SNBP dan diterima di Universitas Sumatera Utara. Kabar itu bukan hanya membawa kebahagiaan bagi Haikal dan keluarganya, tetapi juga menggetarkan hati seluruh civitas akademika MAN 3 Aceh Timur.
Air mata haru mengalir bukan karena kesedihan, tetapi karena bangga melihat seorang anak yatim mampu menaklukkan keterbatasan.
Namun bagi Haikal, ini bukanlah akhir. Ini adalah awal dari perjalanan panjang untuk mewujudkan sesuatu yang lebih besar.
Satu kalimat sederhana yang ia pegang teguh
"Mimpiku adalah mimpi orang tuaku".
Di dalam mimpinya, ada harapan ayah yang telah tiada. Ada doa ibu, bunda, bibi yang tak pernah berhenti meski terpisah jarak.
Ada harapan nenek yang setiap hari menunggu keberhasilannya.
Haikal tidak hanya sedang mengejar masa depan. Ia sedang menunaikan amanah cinta.
Dan di setiap langkahnya, ia tahu
bahwa ia tidak berjalan sendiri.
Terimkasih untuk semua.
KOMENTARI TULISAN INI